Pada Zaman dahulu Astana Gede bernama Kabuyutan sanghyang Lingga Hyang menurut pengkiraan Astana Gede (Astana= makam dan Gede= Besar), adalah tempat pemujaan raja-raja Kawali terdahulu yang masih menganut agama Hindhu, kemudian digunakan makam orang besar yaitu Adipati Singacala sebagai Raja Kawali tahun 1663 – 1718 M keturunan Sultan Cirebon yang sudah menganut agama Islam. Sebagai pusat,pemerintahan raja-raja yang pernah bertahta di tempat ini adalah Prabu Ajiguna Linggawisesa, yang dikenal dengan sebutan Sang Lumahing kiding,Prabu raga mulya atau Aki Kolot , Prabu Linggabuana yang gugur pada peristiwa perang bubat , Rahyang Niskala Wastukancana yang meninggalkan beberapa prasasti di Astana Gede(Situs Kawali) dan Dewa Niskala anak dari Rahyang Wastukancana. Astana Gede yang disebut juga Situs Kawali dikenal sebagai komplek peninggalan sejarah dan budaya masa lampau, yaitu pada masa kerajaan Galuh sekitar abad ke-14 masehi. Astana Gede Kawali merupakan tempat suci pada masa pemerintahan kerajaan Sunda-Galuh di Kawali . letaknya berada di kaki Gunung Sawal, tepatnya berada di sebelah utara atau 27 km dari kota Ciamis , yaitu di Dusun Indrayasa Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Keadaan lingkungan situs ini merupakan hutan lindung yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan, tanaman keras diantaranya termasuk Familia Meliciae, Lacocarpaceae, euphorbiaceae,sapidanceae dan lain-lain, tanaman palawija,rotan, salak,cengkih,dll. Menurut temuan Arkeologi , bila dilihat dari tinggalan budaya yang ada dikawasan Astana Gede Kawali merupakan kawasan campuran, yaitu berasal dari periode prasejarah, klasik dan periode Islam. Bentuk budaya yang terjadi diperkirakan mulai dari tradisi megalitik yang ditandai dengan adanya temuan punden berundak, lumpang batu , menhir,yoni,kemudian berlanjut secara berangsur-angsur ke tradisi budaya sejarah(klasik) yang ditandai dengan adanya prasasti , kemudian berlanjut ke tradisi Islam yang ditandai dengan adanya makam kuno. Dengan demikian kawasan Astana Gede merupakan kawasan yang menarik untuk dikunjungi.
See also  Curug Tujuh Cibolang
Salah satu dari batu bertulis tersebut bertuliskan “Mahayunan Ayuna Kadatuan” yang dijadikann moto juang Kabupaten Ciamis.