dispar.ciamiskab.go.id – Upacara adat Nyangku sebagai salah satu warisan budaya yang berasal dari Kabupaten Ciamis. Pada bulan Rabbiul Awal Atau lebih dikenal bulan Mulud biasanya digelar even Upacara adat Nyangku di Kecamatan Panjalu, dan untuk tahun ini akan dilaksanakan pada hari Senin (9/10/2023).

Upacara adat Nyangku adalah rangkaian proses pembersihan atau pencucian benda – benda peninggalan Prabu Sahyang Borosngora dan para Raja Panjalu dan Bupati Panjalu,Kabupaten Ciamis. Acara ini biasa dilaksanakan hari Senin atau Kamis terakhir Bulan Mulud oleh warga Panjalu.

Tujuan dari upacara adat ini adalah untuk mengenang Prabu Sanghyang Borosngora. Masyarakat juga meyakini bahwa Nyangku terdapat nilai – nilai kebaikan. Dengan membersihkan benda pusaka tersebut, dianggap juga sebagai istrospeksi diri atas kesalahan yang telah diperbuat.

Rangkaian Upacara adat Nyangku

Prosesi Upacara Adat Nyangku dimulai dari pengambilan air keramat (tirta kahuripan), paling sedikit tujuh mata air untuk membersihkan benda-benda pusaka. Mata air tersebut dipercaya sebagai petilasan Prabu Sanghyang Borosngora yang letaknya tersebar di dalam Desa Panjalu maupun di luar Desa.

Mata air tersebut ialah mata air Situ Lengkong, Karantenan, Kapunduhan, Cipanjalu, Kubang Kelong, Pasangrahan dan Kulah Bongbang Rarang dan Bombang Kancana. Air yang telah diambil tersebut kemudian disimpan di dalam tempat khusus dan ditawasul (diberi do’a) oleh para santri selama 40 hari sampai hari pelaksanaan Upacara Adat Nyangku.


Pada malam sebelum Upacara Adat Nyangk, diadakan pengajian dan pembacaan Sholawat Nabi di Pasucian “Bumi Alit” yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni tradisi Gembyung dan Debus.

Prosesi Upacara Adat Nyangku dimulai dengan pengambilan benda-benda pusaka yang tersimpan di Pasucian “Bumi Alit”.

See also  Nyepuh Tradisi Adat Desa Ciomas Kecamatan Panjalu Ciamis

Selanjutnya benda-pusaka tersebut dikirab menuju ke Pulau Nusa Gede. Benda-benda pusaka utama dibawa dengan cara digendong seperti menggendong bayi oleh keturunan Raja Panjalu. Setelah itu, benda pusaka tersebut dibawa menuju Taman Borosngora untuk ritual pembersihan.

Sesampai di Nusa Gede, dilakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu di hadapan pusara Prabu Hariang Kancana. Puncaknya adalah pembersihan benda-benda pusaka dengan menggunakan tirta kahuripan dan jeruk nipis, kemudian dikeringkan dengan menggunakan tungku yang berisi kemenyan yang dibakar.


Kemudian benda-benda pusaka tersebut diolesi minyak kelapa murni, lalu dibungkus dengan daun kelapa muda serta dililit kain putih. Setelah selesai ritual pembersihan, benda-benda pusaka tersebut diarak untuk disimpan kembali di Pasucian “Bumi Alit”.